KBBI Offline 1.5

September 18th, 2013 No comments

Untuk mempermudah membahas berbagai macam istilah dalam perkuliahan, saya sertakan software KBBI Offline pada link beriku.

kbbi-offline-1.5.1

selamat belajar

Categories: Uncategorized Tags:

IDENTITAS BAHASA INDONESIA

December 18th, 2012 No comments

1.  Sejarah dan Perkembangan Bahasa Indonesia

Kelahiran bahasa Indonesia menandai kajian materi secara historis. Upaya penyempurnaan ejaan bukan terjadi begitu saja, melainkan mengalami proses perkembangan. Perbendaharaan bahasa Indonesia juga bertambah dengan berbagai cara. Untuk mengembangkan bahasa Indonesia, dilakukan kongres-kongres bahasa. Hal ini penting dilakukan karena bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa persatuan dan berperan sebagai bahasa NKRI.

 

1.1   Kelahiran Bahasa Indonesia

Kelahiran Bahasa Indonesia Untuk lebih menghargai bahasa Indonesia, Saudara perlu memahami kelahiran bahasa Indonesia. Dengan memahami kelahiran bahasa Indonesia, kita dapat meningkatkan upaya menghargai dan rasa bangga menggunakan bahasa Indonesia. Untuk lebih memudahkan belajar, Saudara akan dibimbing dengan pertanyaan-pertanyaan pokok.

Kapan bahasa Indonesia lahir?

 

Kelahiran Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia dianggap lahir pada 28 Oktober 1928 dan 18 Agustus 1945. Dianggap lahir pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 karena hasil putusan kongres ini menyebut bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Dianggap lahir pada 18 Agustus 1945 karena keberadaan bahasa Indonesia secara resmi diakui melalui Undang-Undang Dasar 1945 dalam pasal 36.

lamunadi.blogdetik.com

belanagari.wordpress.com

 

Mengacu pada dua versi kelahiran di atas, bahasa Indonesia disebut sebagai bahasa persatuan dan bahasa resmi. Meskipun demikian, hanya sebagian kecil penduduk Indonesia yang benar-benar menggunakannya sebagai bahasa ibu. Hal ini disebabkan masyarakat Indonesia lebih suka menggunakan bahasa daerahnya masing-masing dalam percakapan sehari-hari. Bahasa daerah, seperti bahasa Melayu Pasar, bahasa Jawa, bahasa Sunda, dll. menjadi bahasa ibu dan bahasa Indonesia menjadi bahasa kedua.

Dari mana asal Bahasa Indonesia itu?

 

Asal Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia merupakan dialek baku dari Bahasa Melayu Riau. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Bahasa Indonesia I tahun 1939 di Solo, Jawa Tengah sebagai berikut.

jang dinamakan ‘Bahasa Indonesia’ jaitoe bahasa Melajoe jang soenggoehpoen pokoknja berasal dari ‘Melajoe Riaoe’, akan tetapi jang soedah ditambah, dioebah ataoe dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe, hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat di seloeroeh Indonesia; pembaharoean bahasa Melajoe hingga menjadi bahasa Indonesia itoe haroes dilakoekan oleh kaoem ahli jang beralam baharoe, ialah alam kebangsaan Indonesia

 

atau sebagaimana diungkapkan dalam Kongres Bahasa Indonesia II 1954 di Medan, Sumatera Utara, “… bahwa asal bahasa Indonesia ialah bahasa Melayu. Dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melaju jang disesuaikan dengan pertumbuhannja dalam masjarakat Indonesia“.

Jika ditinjau berdasarkan rumpun, bahasa Indonesia termasuk rumpun Austronesia. Jika digambarkan tampak sebagai berikut.

Rumpun Bahasa

Informasi tentang rumpun-rumpun bahasa di dunia, silakan buka situs wikipedia.

sevilla99.files.wordpress.com

 

Apa alasan pemerintahan Presiden Soekarno memilih bahasa Indonesia tuturan Riau?

 

 

Alasan Memilih Bahasa Melayu Tuturan Riau

 

Saat itu, pemerintah menyetujui pemilihan bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu tuturan Riau. Presiden Soekarno tidak memilih bahasa Jawa yang merupakan bahasanya sendiri dan juga bahasa mayoritas pada saat itu. Adapun pertimbangan Presiden Soekarno atas pilihan bahasa Melayu tuturan Riau sebagai berikut.

  1. Suku-suku lain di Republik Indonesia akan merasa dijajah oleh suku Jawa jika menggunakan bahasa Melayu tuturan Jawa.
  2. Bahasa Melayu Riau lebih mudah dipelajari dibanding bahasa Jawa yang memiliki tingkatan bahasa (halus, biasa, dan kasar) sesuai usia, derajat, ataupun pangkat dan sering memunculkan kesan negatif jika pemakai bahasa Jawa kurang memahami budaya Jawa.
  3. Suku Melayu berasal dari Riau dan bahasa Melayu Riau paling sedikit terpengaruh bahasa lainnya.
  4. Menumbuhkan semangat patriotik dan nasionalisme negara tetangga, seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura yang juga menggunakan bahasa Melayu dan nasibnya sama dengan Indonesia, yaitu dijajah Inggris.
  5. Para pejuang kemerdekaan diharapkan bersatu lagi dengan tujuan persatuan dan kebangsaan.

Setelah memahami kelahiran bahasa Indonesia, Saudara perlu memahami perkembangan bahasa Indonesia. Perkembangan ini mencakup usaha-usaha penyempurnaan ejaan, perbendaharaan kata, dan hasil-hasil Kongres Bahasa Indonesia.

 

1.2  Penyempurnaan Ejaan Bahasa Indonesia

Perkembangan ini dimulai dari usaha untuk menyempurnakan ejaan. Secara umum, ejaan bahasa Indonesia dimulai dari Ejaan van Ophuijsen, Ejaan Soewandi, Ejaan Soewandi, dan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Apa saja aturan ejaan-ejaan itu?

Ejaan mengatur tentang penggunaan tanda baca meliputi tanda titik (.), (tanda koma (,), tanda titik koma (;), tanda titik dua (:), tanda kurung (), tanda siku […], tanda petik (“), tanda apostrof (‘), tanda seru (!), tanda tanya (?), tanda persen (%), tanda hubung (-), tanda pisah (—), tanda miring (/), hingga tanda elispsis (…). Selain itu, ejaan juga mengatur penggunaan huruf kapital, huruf miring, dan huruf tebal. Aturan-aturan ini bertujuan untuk kegiatan penyeragaman sehingga mudah dipahami oleh pembaca. Bayangkan saja kalau tiap orang membuat aturan sendiri, tentu banyak sekali ragam yang akan muncul. Hal ini akan membuat kesulitan dalam pemahaman isi bacaan.

 

Kapan cikal bakal ejaan bahasa Indonesia muncul?

files.myopera.com

Cikal bakal ejaan bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu yang ditetapkan pada tahun 1901. Pada tahun inilah Ch. A. van Ophuijsen membuat ejaan resmi bahasa Melayu yang dimuat dalam Kitab Logat Melayu .

Pada tahun 1908, sebuah badan penerbit buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat) didirikan pemerintah. Badan penerbit ini berubah menjadi Balai Pustaka pada tahun 1917. Balai Pustaka ini menerbitkan buku-buku novel seperti Siti Nurbaya dan Salah Asuhan, buku-buku penuntun bercocok tanam, penuntun memelihara kesehatan, dan sebagainya. Penerbitan buku-buku ini banyak membantu penyebaran bahasa Melayu di kalangan masyarakat luas. Penerbit Balai Pustaka ini akhirnya dikenal sebagai angkatan Balai Pustaka dalam sejarah sastra Indonesia.

Pada tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda dari beberapa daerah, seperti Sumatra, Jawa, Sulawesi, dll. berkumpul. Peristiwa ini dikenal dengan Sumpah Pemuda. Salah satu butir dalam Sumpah Pemuda sangat penting dalam perkembangan bahasa Indonesia. Pada saat inilah bahasa Indonesia dianggap sebagai bahasa persatuan.

Sebuah angkatan sastrawan muda yang dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana, Sanusi Pane, Armijn Pane, dan sebagainya berusaha melawan kebijakan yang dibuat oleh badan penerbit yang sudah ada, yaitu Balai Pustaka. Kelompok sastrawan ini dikenal dengan nama Pujangga Baru. Nama Pujangga Baru berasal dari nama sebuah majalah yang terbit pada tahun 1933.

Bagaimana usaha penyempurnaan ejaan Bahasa Indonesia?

 

Ejaan-ejaan ini bahasa Indonesia mengalami beberapa usaha untuk penyempurnaan. Perkembangan ejaan ini diawali dari cikal bakal ejaan bahasa Indonesia yang berasal dari Kitab Logat Melayu, yaitu ejaan van Ophuijsen hingga Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

 

 

A. Ejaan van Ophuijsen (1901)

Ejaan ini merupakan ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin. Van Ophuijsen merupakan tokoh yang telah merancang ejaan ini yang dibantu Engku Nawawi, Soetan Ma’moer, dan M. Taib Soetan Ibrahim.

Ciri-ciri dari ejaan ini, yaitu

  1. huruf j, misalnya jang, pajah, sajang, dsb.
  2. huruf oe, misalkan goeroe, itoe, oemoer, dsb.
  3. tanda diakritik, seperti koma ain dan tanda trema, misalkan ma’moer, ’akal, ta’, pa’, dinamai’, dan sebagainya.

 

B. Ejaan Soewandi (1947)

Ejaan ini dipilih pada masa awal kemerdekaan untuk menggantikan ejaan Van Ophuijsen. Ejaan ini resmi berlaku pada tanggal 19 Maret 1947. Ejaan ini disebut juga ejaan republik karena berdekatan dengan proklamasi.

Ciri-ciri ejaan ini yaitu

  1. huruf oe diganti dengan u, misalkan guru, itu, umur, dsb.
  2. bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, misalkan tak, pak, rakjat, dsb.
  3. kata ulang boleh ditulis dengan angka 2, misalkan kanak2, ber-jalan2, ke-barat2-an
  4. awalan di- dan kata depan di ditulis serangkai dengan kata yang mendampinginya, misalkan dipasar, dipukul, dibaca

 

C. Ejaan Melindo(1959)

Melindo merupakan kepanjangan dari Melayu—Indonesia. Ejaan ini batal diresmikan karena faktor perkembangan politik. Ejaan ini bukan berkaitan dengan Republik Indonesia, melainkan juga dengan negeri tetangga kawasan Melayu, yaitu Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam.

 

D. EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) (1972)

Ejaan bahasa Indonesia yang hingga kini masih berlaku adalah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Dengan berbagai revisi, ejaan ini tetap dipertahankan. Pertama kali diresmikan pemakaiannya pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh Presiden Soeharto.

 

1.3  Perbendaharaan Kata Bahasa Indonesia

Seiring usaha penyempurnaan ejaan, perbendaharaan kata dalam Bahasa Indonesia juga mengalami pertambahan. Nah, untuk memahami pertambahan perbendaharaan kata dalam Bahasa Indonesia, Saudara dapat menyimak ulasan berikut ini.

 

Bagaimana cara pertambahan perbendaharaan kosakata Bahasa Indonesia?

Perbendaharan kata dalam bahasa Indonesia mengalami pertambahan melalui lima cara, yaitu

  1. pembentukan kata yang menggunakan imbuhan-imbuhan baru, misalkan
    • tuna- (Jawa) pada kata tunawisma, tunarungu
    • pramu- (Kawi) pada kata pramusaji, pramuniaga, pramugari
    • wira- (Sansekerta) pada kata wirusaha, purnawirawan
    • nara- (Kawi) pada kata narasumber, narapidana
    • swa- (Sansekerta) pada kata swadaya, swasembada
    • bilangan Sansekerta, seperti eka, dwi, tri, catur, panca
    • purna-, graha-, wism-a, tan-. nir-
  2. adopsi, yaitu pengambilan kata apa adanya dari bahasa asing, misalkan supermarket,hamburger
  3. adaptasi, yaitu penyesuaian bunyi/ejaan, misalkan universitas (university), organisasi (organization)
  4. penerjemahan, misalkan tumpang tindih (overlap), percepatan (acceleration), uji coba (try out)
  5. akronim, yaitu singkatan yang merupakan hasil penyingkatan beberapa kata, misal pimpro (pimpinan produksi), sidak (inspeksi mendadak)

Pertambahan kata dipengaruhi pergesekan kebudayaan Indonesia dengan dunia luar. Hubungan ini memiliki pengaruh yang kuat dalam kegiatan berbahasa. Berdasarkan masanya, pertambahan perbendaraan kata dapat dilihat dari pengaruh empat masa berikut:

  1. Hindu (antara abad ke-6 sampai 15 M), misalkan samudra , suami, istri, raja, putra, pura, kepala, mantra, cinta, kaca (Sanskerta Indo-Eropa)
  2. Islam (dimulai dari abad ke-13 M, misalkan masjid, kalbu, kitab, kursi, doa, khusus, maaf, selamat, kertas (Arab, Persia)
  3. Kolonial, misalkan gereja, sepatu, sabun, meja, jendela (Portugis) dan asbak, kantor, polisi, kualitas ( Belanda )
  4. Pasca-Kolonialisasi (Kemerdekaan dan seterusnya)
  5. Modernisme, misalkan konsumen, komputer, email (Inggris), dasawarsa, lokakarya, tunasusila (Sansekerta).

 

Dari mana saja Bahasa Indonesia menyerap?

Bahasa Indonesia bersifat terbuka. Hal ini berarti bahwa bahasa Indonesia menyerap kata-kata dari bahasa lain. Pusat Bahasa mencatat jumlah kata serapan dari bahasa lain yang diserap bahasa Indonesia pada tahun 1996.

Sumber: Pusat Bahasa, 1996

 

Jika digambarkan menjadi grafik, tampak sebagai berikut.

Dari tabel dan grafik di atas, tampak terdapat ribuan kata dari bahasa tertentu yang diserap bahasa Indonesia, di antaranya dari bahasa Belanda, Inggris, dan Arab. Sisanya, bahasa Indonesia banyak menyerap Cina, Hindi, Parsi, Portugis, Sansekerta-Jawa Kuna, dan Tamil.

Hingga saaat ini belum ada data yang menyatakan bahwa bahasa Indonesia mengalami pertambahan kata dengan jumlah tertentu selama rentang waktu 10 tahun, 20 tahun, dan seterusnya. Namun, berdasarkan data di atas jika dibandingkan dengan bahasa Inggris, perbendaharaan kata dalam bahasa Indonesia lebih sedikit dibanding bahasa Inggris.

 

1.4  Hasil Kongres Bahasa Indonesia

technolovers.files.wordpress.com

 

Kapan Kongres Bahasa Indonesia dilakukan dan apa hasilnya?

Kongres Bahasa Indonesia I dilakukan di Solo pada 25—28 Juni 1938. Hasil kongres ini secara umum menyimpulkan bahwa  usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia dilakukan secara sadar oleh cendekiawan dan budayawan Indonesia saat itu. Beberapa keputusan kongres ini antara lain:

  1. setuju mengambil kata-kata asing untuk ilmu pengetahuan yang diambil dari perbendaharaan umum,
  2. perlu menyusun tata bahasa Indonesia yang baru ejaan yang digunakan ialah ejaan van Ophujsen wartawan sebaiknya berupaya mencari jalan-jalan untuk memperbaiki bahasa di dalam persuratkabaran,
  3. bahasa Indonesia supaya dipakai dalam segala badan perwakilan istilah-istilah internasional diajarkan di sekolah
  4. bahasa Indonesia hendaklah digunakan sebagai bahasa hukum dan sebagai pertukaran pikiran di dalam dewan-dewan perwakilan, dan
  5. perlu didirikan sebuah lembaga dan sebuah fakultas untuk mempelajari bahasa Indonesia.

Kemerdekaan Indonesia juga menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Hal ini sebagaimana dituangkan dalam Undang-Undang Dasar RI 1945 Pasal 36. Undang-Undang Dasar 1945 ini ditandatangani sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan, tepatnya tanggal 18 Agustus 1945.

Ejaan bahasa Melayu buatan van Ophuijsen pada tahun 1901 sudah tidak dipakai dalam kaidah bahasa Indonesia. Hal ini disebabkan pada tanggal 19 Maret 1947 telah diresmikan penggunaan Ejaan Republik (Ejaan Soewandi) sebagai pengganti Ejaan van Ophuijsen. Jadi, ejaan van Ophuijsen sudah berlaku selama 46 tahun sebelum diganti Ejaan Republik.

Pada tahun 1953 Kamus Bahasa Indonesia yang pertama diterbitkan. Kamus ini dibuat oleh Poerwadarminto. Dalam kamus itu tercatat jumlah lema (kata) dalam bahasa Indonesia mencapai 23.000.

Koleksi Pribadi

Kongres Bahasa Indonesia II dilaksanakan pada 28 Oktober—2 November 1954 di Medan. Hasil kongres mengamanatkan untuk  terus-menerus menyempurnakan bahasa Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa negara.

Ejaan Republik yang dikenal juga sebagai Ejaan Soewandi diganti dengan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan H. M. Soeharto selaku Presiden Republik Indonesia di hadapan sidang DPR pada tanggal 16 Agustus 1972. Selain itu, peresmian Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972.

Pada tahun yang sama, tepatnya pada tanggal 31 Agustus 1972, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada tahun 1976 Pusat Bahasa menerbitkan Kamus Bahasa Indonesia dan terdapat 1.000 kata baru. Artinya, dalam waktu 23 tahun hanya terdapat 1.000 penambahan kata baru.

Kongres Bahasa Indonesia III diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober—2 November 1978. Kongres ini bersamaan dengan 50 tahun  Sumpah Pemuda. Selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia, hasil kongres ini juga memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia.

Kongres bahasa Indonesia IV diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Kongres Bahasa Indonesia IV dilaksanakan di Jakarta pada 21—26 November 1983. Hasil kongres menyebutkan bahwa  pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus lebih ditingkatkan. Semua warga negara Indonesia agar menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Kongres Bahasa Indonesia V dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari seluruh Nusantara dan peserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres ini dilakukan di Jakarta pada 28 Oktober—3 November 1988. Kongres ini juga mempersembahkan karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa berupa Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Kamus pada tahun ini mengalami loncatan yang luar biasa. Dari 24.000 kata telah berkembang menjadi 62.000. Selain itu, setelah bekerja sama dengan Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, bahasa Indonesia memiliki 340.000 istilah di berbagai bidang ilmu. Hingga kini Pusat Bahasa berhasil menambah 250.000 kata baru. Dengan demikian, sudah ada 590.000 kata di berbagai bidang ilmu. Sementara kata umum telah berjumlah 78.000.

Kongres Bahasa Indonesia VI dilaksanakan pada 28 Oktober -                   2 November 1993. Kongres ini pun tetap dilaksanakan di ibukota, Jakarta dan  belum pernah dilaksanakan di daerah-daerah yang lain. Peserta kongres ini sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India, Italia, Jepang, Rusia, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Hasil kongres mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa statusnya ditingkatkan menjadi Lembaga Bahasa Indonesia. Selain itu, juga mengusulkan agar Undang-Undang Bahasa Indonesia disusun.

Kongres Bahasa Indonesia VII dilaksanakan 26—30 Oktober 1998 masih di Jakarta. Hasil kongres mengusulkan agar dibentuk Badan Pertimbangan Bahasa. Badan ini memiliki anggota dari tokoh masyarakat dan pakar yang mempunyai kepedulian terhadap bahasa dan sastra. Tugas badan ini memberikan nasihat kepada Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa serta mengupayakan peningkatan status kelembagaan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Kongres Bahasa Indonesia VIII dilaksanakan 14 – 17 Oktober 2003 di Jakarta. Banyaknya negara yang membuka studi mengenai Indonesia mendorong panitia mengagendakan pembuatan bahan ajar pelajaran Bahasa Indonesia untuk para penutur asing. Hal ini dibuktikan dengan adanya 35 negara yang telah memiliki pusat studi tentang Indonesia di perguruan tinggi. Agar para penutur asing itu harus bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar dibutuhkan pedoman buku ajar. Selain itu, akan dikembangkan Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI). UKBI tidak hanya ditujukan bagi para warga asing yang akan bekerja di Indonesia, tetapi juga warga Indonesia sendiri.

Kongres Bahasa Indonesia IX dilaksanakan pada 28—31 Okober 2008 di Jakarta. Hasil kongres ini menyatakan bahwa bentuk-bentuk pemakaian bahasa Indonesia yang diajarkan di sekolah adalah bentuk-bentuk pemakaian bahasa dari variasi bahasa baku. Bentukan bahasa dari berbagai variasi, misalnya berdasarkan dialek geografi, dialek sosial, register (digunakan oleh profesi tertentu, misalnya dokter, pengacara, dan sebagainya.) dapat diperoleh siswa dalam berbagai pemakaian bahasa di masyarakat.

Categories: Kajian Kebahasaan Tags:

5 Alasan Bangga dengan Bahasa Indonesia

November 20th, 2012 No comments

1. Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu.

Fakta sejarah mengatakan jika bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau. Yang mana menurut Jan Huygen Van Linschoten dalam bukunya Itinerario disebutkan bahwa bahasa Melayu terkenal sebagai bahasa yang paling sopan dan paling pas di kawasan timur. Maka dari itu, meski bahasa Indonesia kini sudah berbeda dari bahasa melayu dulu, namun kita harus bangga karena bahasa kita dahulu adalah bahasa mulia dan hingga kini masih merupakan bahasa yang mulia serta selayaknya kita jaga dan tingkatkan kemuliaannya dengan merawat dan melestarikannya.

2. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang mudah.

Bahasa Indonesia adalah bahasa yang berbeda dari bahasa lain di dunia. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang mudah karena bahasa ini tidak memiliki tingkatan kata atau pun kalimat. Maksudnya walau pun kejadian tersebut terjadi kemarin, sekarang atau pun besok, kata yang dipergunakan tetap sama.

Contoh:
Kemarin : Ayah membeli jeruk kemarin sore
Sekarang: Ayah membeli jeruk saat ini.
Bandingkan dengan bahasa Inggris berikut dan lihat tulisan yang bercetak tebal,

Kemarin : Yesterday my father bought some oranges.
Sekarang: My father buy some oranges.

Selain itu jumlah benda pun tak mempengaruhi kata yang diterangkan.

Contoh :
satu apel –> an apple
dua apel –> two apples

3. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang unik.

Meski bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu namun bahasa Indonesia kini telah berbeda dari bahasa Melayu, baik dari susunan kata atau fungsi kata. Contohnya adalah pada kasus Manohara yang tengah hangat akhir-akhir ini. Jika Anda simak dialog antara warga Negara Indonesia dengan warga Negara Malaysia di televisi, maka akan Anda temukan beberapa penggunaan kata yang berbeda seperti kata ‘boleh’, ‘bisa’ dan sebagainya. Dengan kata lain, bahasa Indonesia adalah bahasa yang hanya ada satu-satunya di dunia. Satu-satunya bahasa yang menjadi identitas warga Negara Indonesia.

4. Bahasa Indonesia adalah bahasa yang sangat kaya.

Pada mulanya bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu dan bahasa Melayu pada mulanya adalah bahasa pasar. Bahasa pasar tercipta dari gabungan bahasa-bahasa pedagang dari seluruh penjuru dunia yang dulu singgah di Melayu. Kemudian bahasa tersebut berkembang pesat kosa katanya dan pada akhirnya terbentuk bahasa yang paling terkenal dari wilayah timur yaitu bahasa Melayu.

Oleh bangsa Indonesia, bahasa melayu kemudian dijadikan pondasi awal untuk membentuk bahasa baru dengan proses yang tidak sebentar. Proses tersebut di antaranya adalah penambahan kosakata baru baik diserap dari bahasa asing maupun dari bahasa daerah. Hingga pada akhirnya ejaannya disempurnakan. Namun proses penyerapan kata tidak terputus hingga sekarang ini.

Karena pada awalnya bahasa Indonesia adalah bentukan dari bahasa pedagang dari seluruh penjuru dunia, maka bahasa Indonesia memiliki ribuan kata yang diserap dari bahasa beberapa bangsa di dunia. Proses tersebut menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa yang kaya.

5. Bahasa Indonesia mulai dipelajari bangsa lain.

Bahasa Indonesia ternyata tidak hanya dipelajari oleh bangsa Indonesia saja. Bahasa Indonesia sendiri kini tengah dipelajari oleh warga Negara di Australia. Alasan warga Negara Australia mempelajari bahasa Indonesia adalah karena mereka tertarik dengan budaya bangsa Indonesia dan ingin memperdalam pengetahuan akan Indoensia dengan mempelajari bahasa Indonesia. Sungguh membanggakan, bahasa kita ternyata dikagumi bangsa selain bangsa Indonesia. Dengan begini bukan mustahil jika bahasa Indonesia kelak mampu menjadi bahasa Internasional menggantikan bahasa Inggris.

Sekarang tugas kita selanjutnya adalah mempertahankan, merawat serta melestarikan bahasa kita agar tidak hilang ditelan zaman.

Categories: Kajian Kebahasaan Tags:

Peran Guru SD Menyikapi KTSP

October 30th, 2012 No comments

Peran Guru SD Menyikapi KTSP

 

Pengantar

Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia mengundang perhatian ahli bahasa dan sastra, praktisi pembuat buku pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, guru SD, SMP, SMU yang tinggi. Entusiasme peserta pun tampak dari lalu-lintas tanya jawab yang aktif, mulai Senin 22/1 hingga Selasa 23/1, pukul 9.00-15.50. Oleh karena itu, saya sampaikan makalah Kushartanti. yang kebagian sesi Strategi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SD. Silakan simak makalah lengkapnya berikut ini.

 

STRATEGI PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

 

DI SEKOLAH DASAR:

 

Peran Guru dalam Menyikapi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan

 

Pengantar

 

Indonesia adalah negara diglosik, yang memiliki bahasa nonstandar yang dipakai dalam situasi nonformal, dan bahasa standar yang dipakai dalam situasi formal. Bentuk bahasa nonstandar di Indonesia beragam. Ada bahasa daerah (yang beberapa di antaranya bahkan menjadi bahasa standar di daerah-daerah tertentu, seperti bahasa Jawa, bahasa Sunda, atau bahasa Makassar) yang dipakai oleh kelompok sosial tertentu, dan ada bahasa Indonesia nonstandar yang dipengaruhi oleh bahasa Jakarta, yang dipakai di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, dan Medan.

 

Situasi diglosik ini bukanlah sesuatu yang aneh bagi anak-anak Indonesia. Pada umumnya mereka memperoleh bahasa nonstandar sebagai bahasa pertama, kemudian belajar bahasa standar di sekolah. Dewasa ini, banyak pula orang tua di kota besar yang menginginkan anak mereka untuk menguasai bahasa asing, terutama Inggris dan Mandarin. Karena itu, ada pula anak-anak yang menguasai kedua bahasa itu sebagai bahasa pertama.

 

Dapat dikatakan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa kedua bagi sebagian besar anak di Indonesia. Bahasa Indonesia secara formal mulai dipelajari ketika mereka duduk di bangku sekolah dasar.  Di sekolah, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan mereka untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, secara lisan dan tertulis, dan untuk menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesusastraan Indonesia.

 

Bagi guru, pembelajaran bahasa Indonesia merupakan suatu tantangan tersendiri, mengingat bahwa bahasa ini — bagi sebagian besar sekolah di Indonesia — merupakan bahasa pengantar yang dipakai untuk menyampaikan materi pelajaran yang lain. Pembelajaran bahasa Indonesia berfungsi pula sebagai sarana untuk membantu peserta didik mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat dengan menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif (Depdiknas, 2006).

 

Menurut Schleppegrell (2004), sekolah perlu meningkatkan kesadaran peserta didik mengenai kekuatan pilihan kata dalam penafsiran berbagai makna dan beragam konteks sosial. Apa yang dikemukakan Schleppergrell ini pun relevan dengan tujuan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia.

 

Di sekolah, guru menghadapi peserta didik dengan berbagai latar belakang sosial-budaya. Tantangan guru tidak hanya mengajarkan bahasa Indonesia untuk mengarahkan peningkatan kemampuan berbahasa, tetapi juga membentuk sikap mereka terhadap bahasa Indonesia. Untuk itu diperlukan strategi guru dalam mengajarkan bahasa Indonesia bukan hanya sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan kognitif mereka, melainkan juga untuk meningkatkan apresiasi mereka terhadap seni — dalam hal ini adalah kesusastraan.

 

Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, guru mempunyai keleluasaan untuk menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didik.  Namun, sejauh mana keleluasaan guru mengatur bahan ajar kebahasaan ini? Hal apa yang diperlukan oleh guru dalam penentuan bahan ajar? Benarkah harus ada pemisahan yang jelas antara pendidikan bahasa dan sastra di sekolah?

 

Secara khusus, makalah ini akan menyoroti pengajaran bahasa dan sastra di sekolah dasar dan kaitannya dengan strategi guru menghadapi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Alasan yang mendasari penulis menyoroti pengajaran bahasa dan sastra di sekolah dasar adalah karena tahun-tahun pertama di sekolah dasar merupakan waktu yang sangat penting dalam peningkatan keterampilan menggunakan bahasa Indonesia. Karena itu, guru mempunyai peran penting dalam meningkatkan keterampilan ini.

 

Di dalam makalah ini akan diuraikan secara singkat mengenai Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan, dan hubungan antara perkembangan bahasa dan pengajaran bahasa serta pengajaran sastra. Makalah ini akan ditutup dengan saran bagi guru untuk menyiasati Kurikulum Satuan Tingkat Pendidikan dalam pengajaran bahasa dan sastra Indonesia.

 

KBK dan KTSP

 

Sampai saat ini, Indonesia masih menghadapi banyak masalah dalam bidang pendidikan. Tilaar (1998) mengungkapkan bahwa paling tidak ada tujuh masalah pokok dalam sistem pendidikan nasional, yaitu menurunnya akhlak dan moral peserta didik, pemerataan kesempatan belajar, masih rendahnya efisiensi internal sistem pendidikan, status kelembagaaan, manajemen pendidikan yang tidak sejalan dengan pembangunan nasional, dan sumber daya yang belum profesional.

 

Masalah yang pertama, dekadensi moral dan akhlak peserta didik, sedikit banyak banyak dipengaruhi oleh faktor latar belakang para peserta didik. Sementara itu, masalah-masalah lain dalam pendidikan nasional menyangkut institusi pembelajaran.

 

Dapat dikatakan bahwa sampai saat ini mutu pendidikan di Indonesia memang tidak mengalami peningkatan yang merata. Paling tidak, ada tiga faktor yang menyebabkan hal ini. Yang pertama adalah kurangnya perhatian terhadap proses dalam pendidikan; sebagian besar institusi pendidikan lebih mementingkan hasil pendidikan. Yang kedua adalah sangat kuatnya peran institusi pemerintah dalam kebijakan pendidikan, yang menyebabkan banyak sekolah kehilangan kemandirian, motivasi, dan inisiatif untuk mengembangkan dan memajukan lembaganya. Yang ketiga adalah kurangnya peran serta orang tua peserta didik dalam penyelenggaraan pendidikan.

 

Faktor-faktor penyebab masalah pendidikan, seperti disebutkan di atas, sudah lama disadari oleh Departemen Pendidikan Nasional.  Untuk memperbaiki keadaan ini, pemerintah menyusun kurikulum yang lebih menekankan kemampuan peserta didik dalam belajar, yakni Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Selain itu, pemerintah juga melakukan reorientasi penyelenggaraan pendidikan, yaitu dari manajemen peningkatan mutu berbasis pusat menjadi manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah.

 

KBK merupakan sebuah kurikulum yang menekankan pengembangan kemampuan melakukan tugas-tugas dengan standar kinerja tertentu. Depdiknas (2002, seperti dikutip dalam Mulyasa, 2006: 42) mengemukakan bahwa KBK memiliki karakteristik sebagai berikut.

 

1. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa, baik secara individual maupun secara klasikal.

2. Berorientasi pada hasil belajar dan keberagaman.

3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan metode yang bervariasi.

4. Sumbernya bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.

5. Penilaian menekankan pada proses belajar dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

 

Walaupun kurikulum ini sudah dicanangkan pemerintah, sejumlah masalah masih tetap bermunculan.  Keterbacaan kurikulum ini merupakan kendala yang utama. Masih banyak penyelenggara pendidikan yang masih kurang memahami hakikat kurikulum ini. Selain itu, kewenangan guru untuk menjabarkan kurikulum ini  sebagai acuan dalam pembelajaran masih sangat terbatas.  Untuk meningkatkan  peran guru dalam pelaksanaan kurikulum,  pemerintah menyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

 

KTSP merupakan upaya untuk menyempurnakan kurikulum agar lebih dekat dengan guru (Mulyasa, 2006:9). Dengan KTSP,  penyelenggara pendidikan, terutama guru, akan banyak dilibatkan dan diharapkan memiliki tanggung jawab yang memadai. Alwasilah (2006) mengungkapkan sejumlah ciri penting KTSP ini sebagai berikut.

 

1. KTSP menganut prinsip fleksibilitas; sekolah diberi kebebasan untuk memberi tambahan empat jam per minggu, yang dapat diisi dengan muatan lokal maupun pelajaran  wajib.

2. KTSP membutuhkan pemahaman dan keinginan sekolah untuk mengubah kebiasaan lama, yaitu ketergantungan pada birokrat.

3.   Guru kreatif, dan siswa aktif.

4. KTSP dikembangkan dengan prinsip diversifikasi; sekolah berperan sebagai “makelar” kearifan lokal.

5. Komite sekolah bersama dengan guru mengembangkan kurikulum.

6. KTSP tanggap terhadap iptek da seni, berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungan.

7. KTSP beragam dan terpadu; walaupun sekolah diberi otonomi dalam pengembangannya, sekolah tetap mengikuti Ujian Nasional.

 

Hal penting yang perlu dipertimbangkan adalah sebagai berikut (Mulyasa, 2006:20).

 

1. KTSP dikembangkan sesuai dengan kondisi satuan pendidikan, potensi dan karakteristik daerah, latar sosial budaya masyarakat setempat dan peserta didik.

2. Sekolah dan komite sekolah mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan, di bawah supervisi dinas pendidikan kabupaten/kota, dan departemen agama yang bertanggung jawab di bidang pendidikan.

 

Dapat dikatakan bahwa tujuan penyusunan KTSP sangat mulia, yaitu meningkatkan peran serta penyelenggara pendidikan dan masyarakat — dalam hal ini diwakili oleh Dewan Sekolah — dalam proses belajar mengajar. Namun, sekali lagi, kemampuan ‘menerjemahkan’ dan melaksanakan kurikulum ini menjadi sangat penting. Jika dikaitkan dengan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia, pemahaman mengenai hakikat pemerolehan, pemelajaran, dan pengajaran bahasa menjadi sangat penting.

 

Pemerolehan, Pemelajaran, Pembelajaran Bahasa: Berbicara, Mendengarkan, Membaca, dan Menulis

 

Istilah pemerolehan bahasa dibedakan dari pemelajaran bahasa. Pemerolehan bahasa  dipakai dalam proses penguasaan bahasa pertama, yaitu proses perkembangan yang terjadi pada seorang manusia sejak ia lahir.  Pemelajaran bahasa adalah proses mempelajari bahasa, yang dipakai dalam proses belajar bahasa (umumnya bahasa yang dipelajari secara formal di sekolah atau bahasa asing) yang dialami oleh seorang anak atau orang dewasa setelah ia menguasai bahasa pertama (Darmojuwono dan Kushartanti, 2005:24). Menurut  Oxford (1990), pemerolehan bahasa muncul secara spontan dan secara tidak disengaja. Sementara itu, pemelajaran bahasa dimunculkan secara sadar; pemelajaran dipelajari dengan instruksi formal.

 

Proses pemerolehan bahasa bukanlah sesuatu yang sederhana. Di dalam pengalaman setiap manusia yang normal, berbahasa adalah proses kognitif yang rumit. Proses ini mensyaratkan kematangan otak dan kematangan alat-alat ucap. Ada sejumlah tahap yang terjadi dalam otak manusia sampai ia menghasilkan ujaran. Di dalam hal ini, tingkat kemampuan memahami pada manusia jauh lebih besar daripada kemampuannya untuk memproduksi bahasa. Dengan demikian, kemampuan mereka untuk menghasilkan ujaran terjadi lebih belakangan dibandingkan dengan kemampuan mereka memahami ujaran.

 

Salah satu fase penting dalam pemerolehan bahasa yang berkaitan erat dengan pemelajaran bahasa adalah fase imitasi. Pada fase imitasi, anak-anak akan meniru orang-orang di sekitarnya untuk berbicara. Dalam fase inilah anak-anak mengasah keterampilan mereka dalam bercerita.

 

Cerita, mendengarkan cerita, dan bercerita adalah aspek yang sangat penting dalam pemerolehan bahasa. Keakraban anak pada bentuk-bentuk cerita merupakan nilai penting dalam proses pemerolehan bahasa.  Pengalaman anak yang diperoleh dengan mendengarkan cerita dapat memperkaya perbendaharaan kata. Selain itu, anak juga memperoleh pengetahuan mengenai ragam bahasa, dalam hal ini ada ragam formal yang biasanya terdapat dalam bahasa tulis, dan ragam informal dalam bahasa lisan. Keterampilan bercerita, seperti menyampaikan informasi faktual secara jelas, merupakan keterampilan yang tidak diperoleh dengan sendirinya. Keterampilan ini menjadi bagian dari pembelajaran bahasa oleh guru.

 

Bercerita menjadi sangat penting dalam proses pemerolehan bahasa karena melalui bercerita anak-anak dapat mengolah kembali semua bentuk pengalaman mereka dalam bahasa. Melatih anak untuk bercerita berarti melatih mereka untuk berani berbicara di depan orang lain.  Menurut Wray dan Medwell (1991), dengan bercerita, atau merangkai peristiwa dalam ujaran, anak-anak memperoleh kesempatan mengungkapkan hal yang sudah terjadi, menyampaikan apa yang sedang terjadi, dan meramalkan apa yang akan terjadi.

 

Dengan bercerita, anak-anak juga belajar menyesuaikan persepsinya dengan persepsi orang lain. Pada saat yang sama, anak-anak lain berlatih untuk menyimak cerita. Keterampilan ini tampaknya mudah, namun dalam pelaksanaannya dapat menjadi sangat sulit untuk dimulai. Di sinilah peran guru untuk mendorong anak agar belajar menghormati orang yang sedang berbicara.

 

Proses belajar bahasa pada anak di sekolah sangat dipengaruhi oleh pengalaman mereka sebelumnya, yaitu sebelum mereka menginjak bangku sekolah formal. Kesenangan belajar bahasa pada dasarnya berasal dari pengalaman yang menyenangkan. Misalnya, ketika anak diperkenalkan pada bentuk-bentuk tulisan dan gambar. Kesadaran mereka akan hubungan antara sesuatu yang tertulis dengan sesuatu yang diujarkan merupakan langkah awal yang baik untuk memperkenalkan bentuk pengungkapan bahasa yang lain, yaitu membaca dan menulis.

 

Kesadaran mengenai hubungan antara sesuatu yang tertulis dengan sesuatu yang diujarkan mereka dapatkan ketika mereka mengetahui adanya hubungan antara gambar dengan cerita dalam buku cerita.  Karena itu sudah sering pula kita mendengar bahwa memperkenalkan anak pada buku-buku cerita bergambar sebelum mereka siap untuk membaca dan menulis adalah hal yang sangat penting.

 

Belajar membaca dan menulis di sekolah merupakan hal yang tidak dapat dielakkan dalam pelajaran bahasa Indonesia. Pada tingkat-tingkat awal, anak-anak didorong untuk mampu membaca dan menulis kalimat-kalimat sederhana. Pada tingkat selanjutnya anak-anak harus memahami penanda-penanda hubungan logis. Hal ini perlu disadari benar oleh guru, karena berpikir logis inilah yang akan menjadi landasan penting dalam pemahaman mata pelajaran yang lain. Seperti halnya bercerita secara logis, menulis secara logis pun merupakan kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh pemelajar.

 

Dapat dikatakan bahwa pembelajaran bahasa  pada hakikatnya adalah proses untuk mencapai empat kompetensi komunikatif. Menurut Oxford (1990: 7) keempat kompetensi komunikatif tersebut adalah sebagai berikut.

 

1. Kompetensi gramatikal, yaitu penguasaan tanda-tanda bahasa, termasuk kosakata, tata bahasa, pelafalan, ejaan, dan pembentukan kata.

2. Kompetensi sosiolinguistis, yaitu kemampuan menggunakan ujaran dalam konteks sosial yang bervariasi, termasuk di dalamnya adalah pengetahuan mengenai pertuturan seperti membujuk, meminta maaf, atau menjelaskan.

3. Kompetensi wacana, yaitu kemampuan untuk menggabungkan gagasan-gagasan untuk mencapai kesatuan dan kepaduan pikiran dalam satuan bahasa di atas kalimat.

4. Kompetensi strategis, yaitu kemampuan menggunakan strategi untuk mengatasi keterbatasan pengetahuan bahasa.

 

Bersastra:  Pengajaran Kreativitas Berbahasa

 

Sering kali, pengajaran sastra terabaikan karena ada sejumlah pelajaran lain yang dianggap lebih penting. Padahal, pengajaran sastra sangat penting dalam perkembangan manusia, bukan hanya penting sebagai sesuatu yang “terbaca” melainkan juga sebagai sesuatu yang memotivasi kita untuk berbuat.

 

Norton (1983), Hucks dkk (1987), Wray dan Medwell (1991), seperti juga  Alwasilah (2006), mengungkapkan pentingnya memasukkan pengajaran sastra di sekolah karena sejumlah alasan sebagai berikut. Karya sastra  menjembatani hubungan realita dan fiksi, hal ini mendukung kecenderungan manusia yang menyukai realita dan fiksi. Melalui karya sastra, pembaca belajar dari pengalaman orang lain dalam menghadapi masalah dalam kehidupan. Di dalam sastra terdapat nilai-nilai kehidupan yang tidak diberikan secara preskriptif — harus begini, jangan begitu — tetapi dengan membebaskan pembaca mengambil manfaatnya dari sudut pandang pembaca itu sendiri melalui interpretasi. Melalui karya sastra pula peserta didik ditempatkan sebagai pusat dalam latar pendidikan bahasa, eksplorasi sastra, dan perkembangan pengalaman personal. Keakraban dengan karya sastra, seperti yang telah diungkapkan sebelumnya memperkaya perbendaharaan kata dan penguasaan ragam-ragam bahasa, yang mendukung kemampuan memaknai sesuatu secara kritis dan kemampuan memproduksi narasi.

 

Di dalam KTSP telah dinyatakan bahwa mata pelajaran Bahasa Indonesia mempunyai tujuan agar peserta didik mempunyai kemampuan sebagai berikut.

 

1. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tertulis.

2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara.

3. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan.

4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial.

5. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa

6. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia .

 

Di dalam KTSP dengan jelas diungkapkan bahwa salah satu tujuan pengajaran bahasa Indonesia adalah agar peserta didik secara kreatif menggunakan bahasa untuk berbagai tujuan. Kreativitas berbahasa dapat dipakai pula untuk mengekspresikan diri. Dalam hal ini, peserta didik bersinggungan dengan sastra.

 

Sudah seharusnya guru memperkenalkan karya sastra sebagai suatu bentuk seni (yang erat kaitannya dengan kreativitas) berbahasa. Pengajaran sastra ditekankan pada bagaimana mengapresiasikan karya, bukan pada menghafal karya sastra. Dorongan guru kepada peserta didik untuk bercerita, seperti diungkapkan pada bagian sebelumnya,  sebaiknya juga dikaitkan dengan pembelajaran sastra. Peserta didik perlu diperkenalkan pada fungsi sastra sebagai alat mengekspresikan diri, baik dalam bentuk cerita, puisi, dan drama (yang mula-mula diperkenalkan sebagai bermain pura-pura).

 

Menurut Sumardi (2000), agar anak dapat memperoleh kesenangan dan manfaat dalam membaca karya sastra itu, kunci utama yang perlu dipikirkan dalam buku pelajaran adalah menyediakan karya sastra anak yang unggul yang sesuai dengan minat dan kematangan jiwa anak. Untuk memilih karya sastra anak yang unggul, diminati, dan sesuai dengan kematangan jiwa anak, dapat digunakan acuan ilmu-ilmu yang relevan seperti ilmu sastra dan psikologi perkembangan. Huck dkk (1987) mengungkapkan bahwa ciri esensial karya sastra anak adalah penggunaan pandangan anak dalam menghadirkan cerita atau dunia imajiner. Karena itu pulalah, guru perlu benar memahami dunia ini.

 

Strategi Guru Bahasa Indonesia dalam Menyikapi KTSP

 

Menurut Cunningsworth (1995) ada dua dimensi konteks belajar bahasa, yaitu konteks bahasa dan konteks anak. Konteks bahasa antara lain mensyaratkan bahasa yang dipelajari itu harus utuh, tidak lepas-lepas, dan jelas ragamnya. Konteks anak antara lain mensyaratkan bahasa yang dipelajari itu harus sesuai dengan lingkungan, kebutuhan bahasa, kematangan jiwa, dan minat anak. Berdasarkan apa yang dikemukakan oleh Cunningsworth tersebut, pemilihan bahan ajar sudah sepatutnya mempertimbangkan kedua konteks tersebut. Nunan (1995) juga mengungkapkan bahwa bahan atau wacana pembelajaran bahasa sebaiknya dipilih berdasarkan konteks sosial, budaya, kebahasaan, dan kehidupan siswa.

 

Keleluasaan guru untuk memilih apa yang diajarkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia sebaiknya dilandasi oleh pertimbangan mengenai apa yang diungkapkan oleh Cunningsworth dan Nunan di atas. Karena pembelajaran bahasa berkaitan dengan pembelajaran budaya, maka sebaiknya guru juga mempertimbangkan aspek-aspek budaya yang ada di Indonesia. Dalam hal ini, kekuatan karya sastra dapat dimanfaatkan.

 

Yang menjadi pertanyaan adalah: bagaimana mendorong anak untuk menyukai karya sastra dalam proses pembelajaran bahasa? Wray dan Medwell (1991: 56-63) menyarankan sejumlah strategi untuk mendorong anak berinteraksi dengan kesusastraan. Strategi itu adalah pilihan (choice) yang diberikan oleh guru kepada peserta didik, kesempatan (opportunity) untuk membaca, suasana (atmosphere) yang dibangun dalam menikmati karya sastra, contoh (model) yang dapat ditiru oleh peserta didik dalam budaya membaca, dan berbagi (sharing) informasi mengenai apa yang sudah dibaca. Strategi-strategi ini dapat diterapkan oleh pengelola pendidikan sebagai langkah pelaksanaan KTSP ini sebagai berikut.

 

Guru dapat memberi kesempatan peserta didik untuk memilih bacaan yang disukainya. Mungkin, pada mulanya bacaan itu bukanlah bacaan yang dinilai baik oleh guru. Namun, dengan memberi kebebasan peserta didik untuk memilih dan menikmati bacaan pilihannya, guru dapat memperkenalkan peran bacaan sebagai sarana untuk memperkaya pengetahuan. Setelah itu, guru dapat meminta peserta didik untuk memilih bacaan yang  temanya sudah ditentukan oleh guru.

 

Peserta didik perlu diberi kesempatan seluas-luasnya untuk membaca secara individual. Misalnya, jika peserta didik datang lebih awal, mereka boleh membaca bacaan yang mereka pilih. Keleluasaan menentukan bahan ajar, seperti tertuang dalam KTSP, sebaiknya juga mempertimbangkan keleluasaan waktu untuk membaca dan mendiskusikan apa yang telah dibaca.

 

Suasana menyenangkan perlu dibangun di sekolah.  Suasana dapat dibedakan menjadi suasana fisik dan suasana sosial.  Suasana fisik berkaitan dengan penempatan buku yang rapi dan menarik. Suasana sosial dapat dibangun di kelas dengan menciptakan iklim persaingan sehat dalam membaca buku. Misalnya saja, anak-anak diminta untuk membaca buku yang berhubungan dengan sastra sebanyak-banyak dalam waktu tertentu, dan siapa yang paling banyak membaca akan mendapatkan hadiah.

 

Tidak dapat dimungkiri bahwa peserta didik berasal dari latar belakang yang beragam. Ada keluarga yang membiasakan anak untuk membaca, ada yang tidak.  Guru dapat menunjukkan antusiasmenya dalam kesempatan membaca. Antusiasme guru ini dapat menjadi contoh yang baik bagi peserta didik. Guru juga dapat lebih dahulu membicarakan buku favoritnya, dan menunjukkan bagaimana waktu membaca adalah waktu yang sangat menyenangkan.

 

Melalui karya sastra, anak juga dapat berbagi pengalaman dan perasaan. Menceritakan pengalaman yang hampir mirip atau sama sekali berbeda berdasarkan buku yang dibaca merupakan kegiatan yang seharusnya menambah minat peserta didik dalam belajar berbahasa. Selain itu mendorong anak untuk menciptakan puisi sebagai bentuk ekspresi pengalaman dan perasaan juga penting. Namun, perlu diingat bahwa setiap anak mempunyai minat yang berbeda mengenai hal ini. Memaksa anak untuk menciptakan suatu bentuk ekspresi bahasa bukanlah tindakan yang bijaksana.

 

Beberapa Saran untuk Pengelola Pendidikan

 

Seperti telah diungkapkan pada bagian kedua makalah ini, KTSP mempunyai tujuan yang mulia untuk mencerdaskan bangsa dengan meningkatkan peran pengelola sekolah, guru,  dan komite sekolah ditingkatkan.  Namun, tujuan mulia ini tidak akan tercapai jika pihak-pihak ini tidak menyadari hakikat dan tujuan pembelajaran bahasa. Ada sejumlah saran yang kiranya dapat menjadi pertimbangan bagi pengelola pendidikan.

 

1.            Guru bahasa Indonesia sebagai pelaksana pembelajaran perlu terus-menerus mengembangkan diri, memperkaya ilmu pengetahuan. Karena pembelajaran bahasa pada hakikatnya adalah pembelajaran budaya, maka guru perlu  memahami budaya peserta didik, dengan tidak melupakan tujuan pengajaran, yang salah satunya adalah menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

 

2.            Pengelola sekolah perlu meningkatkan pemanfaatan perpustakaan.  Buku-buku bacaan di perpustakaan harus dapat dimanfaatkan untuk kepentingan belajar dan mengajar.  Guru sebaiknya merancang waktu yang cukup banyak untuk kunjungan ke perpustakaan dan waktu untuk mendiskusikan bacaan, baik secara lisan maupun secara tertulis.

 

3.             Seyogyanya, guru bahasa Indonesia bukan saja mempunyai wawasan ilmu linguistik dan pengajaran bahasa, namun juga mempunyai wawasan yang luas mengenai kesusastraan Indonesia, khususnya sastra anak dan wawasan mengenai psikologi anak.

 

4.            Guru bahasa Indonesia perlu terus-menerus berkoordinasi dengan guru mata pelajaran yang lain, sehingga pengembangan keterampilan berbicara, menyimak, membaca dan menulis tidak hanya terjadi di dalam kelas Bahasa Indonesia, melainkan juga di kelas-kelas yang lain.

 

5.            Peran guru tidak lagi menjadi ”penceramah”, melainkan menjadi fasilitator. Dengan cara ini, peserta didik akan terus-menerus dipacu untuk berusaha mencari informasi secara aktif.

 

6.            Sejalan dengan saran nomor 5 di atas, peserta didik perlu terus didorong untuk berani bertanya, mengungkapkan pendapat, dan mampu menjadi pendengar yang baik ketika orang lain berbicara. Salah satu cara untuk mengukur kemampuan menyimak adalah dengan meminta peserta didik untuk menceritakan kembali apa yang telah didengarnya ketika orang lain berbicara.

 

7.            Komite sekolah perlu dilibatkan dalam kegiatan belajar-mengajar. KTSP sudah menyarankan hal ini, namun dalam pelaksanaannya, banyak sekolah yang belum memberdayakan komite sekolah. Untuk itu diperlukan koordinasi dan komunikasi yang baik antara komite sekolah dengan pengelola sekolah.  Komite sekolah, yang anggotanya adalah orang tua peserta didik, perlu menyadari bahwa  prestasi hendaknya bukan hanya diukur dari prestasi nilai, tetapi juga prestasi proses. Karena itu, hendaknya pandangan ini perlu disadari benar oleh Komite Sekolah yang menjadi jembatan antara kepala sekolah, guru, dan orang tua.

 

Terima kasih.

 

Entri ini dituliskan pada Selasa, Maret 13th, 2007 pada 10:32 am dan disimpan dalam Makalah. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.

7 Tanggapan ke “Peran Guru SD Menyikapi KTSP”

 

1. agorsiloku Berkata:

April 9th, 2007 pada 8:01 am

 

Jadi KTSP memiliki tujuan yang sangat mulia?. Kalau sebelumnya, apakah tidak semulia KTSP?. Berapa banyak kisi-kisi yang menunjukkan kemuliaan itu, perbedaan itu?. Apakah KTSP sekarang tidak menekankan kompetensi seperti KBK.

 

Saya terus terang agak ragu (kalau boleh dibilang tidak percaya). Sedari dulu juga alasan-alasan selalu mulia. Hasilnya saja yang menyedihkan.

2. yasir husain Berkata:

April 28th, 2007 pada 1:07 pm

 

tolong dikirim ke email saya tentang pengaruh bahasa daerah dalam belajar bahasa indonesia di sekolah dasar

3. anonim Berkata:

Juni 9th, 2007 pada 12:25 pm

 

tae

4. suparman Berkata:

Juli 8th, 2007 pada 10:03 pm

 

KTSP memang bagus, tetapi lebih bagus lagi meningkatkan mutu guru dan kesejahteraan guru.

5. jeffry Berkata:

Juli 15th, 2007 pada 8:32 am

 

kenapa guru yang selalu yang di anggap tidak mampu dan dituntut peran aktifnya seolah-olah guru manusia yang berkemampuan super tapi dengan intake minim. lebih baik anda komentari kebijakan pemerintah dalam membuat kebijakan, bukan guru dan kurikulum yang tidak bagus tapi keterpihakan pemerintah terhadap guru yang menyedihkan. Guru rindu diperhatikan, guru rindu dimanusiakan, guru rindu disejajarkan dengan para profesional lain…, jangan biarkan guru pulang mengajar lalu pergi ngojek kalau tidak Pendidikan indonesia tetap akan jelek dan diejek.

6. sulis Berkata:

Agustus 5th, 2007 pada 1:02 pm

 

Jadilah seorang guru yang berprestasi bagi diri sendiri,dan janganlah selalu menyalahan kurikulum dan masalah kesejahteraan guru yang tidak pernah selesai dan tuntas.Guru berprestasi adalah guru yang mau merubah paradigma sebagai guru biasa-biasa saja, tunjukan bahwa guru juga mampu berkreativitas dengan segala keterbatasan, baik sarana maupun segi finansial.Bila guru selalu negatif thinking, kapan dunia pendidikan akan maju seperti di malaysa misalnya!

7. kirana Berkata:

Agustus 20th, 2007 pada 7:49 am

 

Guru adalah kata yang paling kuhormati, dalam Guru ada hal yang harus diGugu dan diTiru. Dalam Guru ada 3 tugas yang diemban yaitu mendidik:yang menjadikan manusia menjadi lebih manusiawi, mengajar:yang menjadikan manusia dari tidak bisa menjadi bisa, dan melatih yang cenderung mengarah pada peningkatan kreatifitas siswa/anak didik. demikianlah seharusnya Guru. Guru ibarat lilin yang rela membakar dirinya demi menerangi lingkungan sekitarnya.. ya sebegitu mulianya Guru, namun tak seorang pun yang mengerti Guru, orang tua siswa sering mencemooh Guru, siswa tidak menghargai Guru, bahkan Pemerintah pun ikut-ikutan sampai gajiNya dikebiri, semua orang tak mengerti Guru. orang akan mengerti seorang Guru apabila ia menjadi Guru. Guru memang Pahlawan tanpa tanda jasa…sebab tak satu penghargaanpun yang layak dan sebanding dengan pengorbanan Sang Guru.

Tak ada yang semulia GURU…..

 

dari siswa yang ingin seperti GURU

vanda

Categories: Pendidikan Tags:

Tahap-Tahap Menulis

October 30th, 2012 No comments
Categories: Kajian Kebahasaan Tags:

Prinsip-Prinsip Berbicara di depan Umum

Berbicara di muka umum, entah itu berkhotbah, mengajar, berpidato atau memberi sambutan, sering mendatangkan stress bagi orang mendapat mandat itu. Sedapat mungkin kita biasanya berusaha menghindar.

Namun pada saat tertentu kita akan tidak bisa mengelak lagi.  Sesungguhnya, berbicara di depan umum itu TIDAK HARUS MEMBUAT ANDA STRESS!

Rahasianya adalah jika Anda mengetahui penyebab stress ini, dan jika Anda menerapkan beberapa prinsip-prinsip ini, maka Anda justru akan menikmati ketika berbicara di depan umum.

Prinsip #1–Kecemasan Berbicara di Muka Umum BUKAN Berasal dari Dalam

Kebanyakan kita percaya bahwa seluruh hidup ini patut dicemaskan! Untuk mengatasi kecemasan ini secara efektif, Anda mesti menyadari bahwa Anda TIDAK perlu mencemaskan hidup Anda, termasuk juga dalam berbicara di depan umum. Ribuan orang telah belajar untuk berbicara di depan umum tanpa rasa cemas (kalaupun ada hanya sedikit sekali).

Pada mulanya, mereka ini juga sangat cemas.  Lutut mereka gemetaran, suara mereka bergetar, pikiran menjadi kacau . . . selanjutnya Anda tahu sendiri. Tapi akhirnya mereka berhasil menghapus kecemasan itu.

Sebagai manusia biasa, Anda pun juga tidak berbeda dengan mereka. Jika mereka mampu mengatasi kecemasan itu, berarti Anda pun bisa! Anda hanya perlu mendapat pedoman, pengertian dan rencana aksi yang tepat untuk mewujudkan hal itu. Percayalah, sudah banyak berhasil, termasuk saya.  Tetapi ingat juga, keberhasilan ini tidak bisa diraih dalam semalam. Ada proses yang harus dilalui.

Prinsip #2–Anda tidak Harus Cerdas dan Sempurna

Ketika melihat seorang sedang berkhotbah, kita lalu bergumam “Wow, saya tidak mungkin bisa secerdas, setenang, selucu dan semenarik dia.” Sesungguhnya, Anda tidak harus cerdas, lucu atau menarik.  Saya mengatakan ini dengan serius.  Walaupun Anda hanya memiliki kemampuan rata-rata–bahkan di bawah rata-rata–Anda masih bisa menjadi pembicara sukses. Itu tergantung bagaimana Anda mendefinisikan kata “sukses” itu sendiri. Percayalah, hadirin itu tidak mengharapkan Anda tampil sempurna.

Inti dari berbicara di depan umum adalah: memberikan sesuatu yang bernilai dan bermakna bagi hadirin. Jika hadirin itu pulang sambil membawa sesuatu yang bermanfaat, maka mereka akan menilai Anda telah sukses. Jika mereka pulang dengan perasaan yang lega atau merasa mendapat manfaat untuk pekerjaannya, maka mereka akan menganggap bahwa tidak sia-sia meluangkan waktu untuk mendengarkan paparan Anda. Bahkan sekalipun lidah Anda terpeleset atau mengucapkan kata-kata yang tolol . . . mereka tidak peduli.

Yang penting mereka mendapat manfaat lain (Bahkan sekalipun Anda mengkritik mereka dan membuat gusar, Anda pun tetap berhasil karena membuat mereka lebih baik lagi.)

Prinsip #3–Anda hanya Butuh Dua atau Tiga Pokok Utama

Anda tidak perlu menyuguhkan segunung fakta pada hadirin. Banyak penelitian menunjukkan bahwa hanya sedikit sekali yang mampu diingat hadirin (kecuali jika mereka mencatat, tentu saja). Pilihlah dua atau tiga point utama saja.

Yang diinginkan hadirin sebenarnya adalah mereka bisa membawa pulang dua atau tiga hal yang bermanfaat. Jika Anda bisa memasukkan hal ini dalam materi Anda, Anda bisa menghindari kompleksitas yang tidak perlu.

Ini berarti juga membuat tugas Anda sebagai pembicara jadi lebih ringan, dan lebih menyenangkan juga!

Prinsip #4–Anda Punya Tujuan yang Tepat

Prinsip ini sangat penting . . . jadi simaklah baik-baik. Kesalahan besar yang sering dilakukan oleh orang yang berbicara di depan umum adalah mereka tidak punya tujuan yang tepat. Inilah yang secara tidak mereka sadari menyebabkan kecemasan dan stress.

Seorang pembicara mengisahkan pengalamannya:”Dulu, saya pikir tujuan utama berpidato adalah membuat semua orang yang hadir setuju dengan pendapat saya.” Karena itu, dia berusaha keras untuk meyakinkan semua hadirin. Jika ada satu orang saja yang tidak setuju, dia langsung meradang.  Jika ada orang yang pulang duluan, jatuh tertidur, atau kelihatan tidak tertarik, orang ini merasa telah gagal. Tetapi kemudian dia menyadari hawa ambisi seperti ini terlihat menggelikan.

Apakah ada pembicara yang bisa meyakinkan 100%  orang yang mendengarnya? Jawabannya: tidak ada! Sesungguhnya, sekeras apapun upaya Anda. . . selalu saja ada orang yang tidak sepakat dengan Anda.  Tetapi tidak apa-apa.  Ini hal yang biasa.

Di dalam kumpulan orang banyak selalu ada perbedaan pendapat, penilaian dan tanggapan. Ada yang positif, ada pula yang negatif. Tidak ada yang pasti dalam hal ini. Jika lamban menyelesaikan pekerjaan Anda, ada yang bersimpati pada Anda, ada pula yang mengkritik Anda dengan tajam. Jika Anda menuntaskan pekerjaan Anda dengan baik, ada yang memuji kemampuan Anda, ada pula yang sangsi bahwa Anda bisa mengerjakannya sendirian. Orang yang pulang duluan, mungkin bukannya tidak tertarik pada uraian Anda melainkan mungkin karena ada keperluan mendesak. Yang tertidur, mungkin semalaman begadang karena anaknya sakit.

Ingat, inti dari berbicara di depan umum adalah memberi nilai atau makna tertentu pada hadirin.  Kata kuncinya adalah MEMBERI, bukan MENDAPAT! Dengan kata lain, tujuannya bukan mendapat sesuatu(persetujuan, ketenaran, penghormatan, pengikut dsb) dari pendengar Anda, melainkan memberikan sesuatu yang bermanfaat.

Prinsip #5–Kunci Sukses adalah Tidak Menganggap Diri Anda Seorang Pembicara!

Prinsip ini tampak paradoks. Kebanyakan orang telah terpengaruh oleh pembicara yang sukses. Kemudian agar sukses, kita berusaha sekuat tenaga memperlihatkan kualitas tertentu yang sebenarnya tidak kita miliki. Akibatnya kita menjadi putus asa ketika gagal meniru karakteristik dari orang terkenal, yang kita anggap sebagai kunci suksesnya.

Jelasnya, alih-alih menjadi diri sendiri, kita sering berusaha menjadi seperti orang lain! Padahal sebagian besar pembicara yang sukses itu melakukan hal yang sebaliknya! Mereka tidak berusaha menjadi orang lain, tetapi menjadi diri mereka sendiri. Dan mereka pun terkejut sendiri karena mereka bisa menikmati tugas yang bayak dicemaskan orang ini.

Rahasianya, karena mereka tidak berusaha menjadi pembicara tetapi menjadi diri mereka sendiri! Kita bisa melakukan hal yang sama. Apapun jenis kepribadian Anda, ataupun ketrampilan dan talenta yang Anda miliki, Anda pasti mampu berdiri di muka umum dan menjadi diri Anda sendiri.

Prinsip #6–Kerendahan Hati dan Humor Sangat Menarik Perhatian

Ada dua hal yang dapat dipakai oleh siapa saja untuk menarik perhatian orang ketika berbicara di muka umum, yaitu: kerendahan hati dan humor. Semua orang mengenal humor.  Jika humor itu tidak menyakiti siapapun, cukup lucu dan sesuai dengan tema pembicaraan Anda, silahkan gunakan.  Humor selalu menarik meskipun Anda tidak cakap menyampaikannya.

Sedangkan yang dimaksud kerendahan hati adalah ketika berbicara Anda  membagikan pergumulan, kelemahan dan kegagalan Anda. Sebagai manusia biasa kita punya kelemahan dan ketika Anda jujur mengungkapkannya Anda menciptakan suasana yang nyaman sehingga orang lain juga bersedia mengungkapkan hal yang sama.

Dengan rendah hati di depan orang lain, justru akan membuat Anda lebih kredibel, bisa dipercaya dan disegani. Anda lebih mudah menjalin komunikasi dengan mereka karena dianggap sebagai “orangnya sendiri”.

Kombinasi antara  humor dan kerendahan hati seringkali sangat efektif. Dengan menceritakan pengalaman hidup Anda yang lucu dapat menjadi sarana komunikasi yang menarik. Demikian juga dengan menceritakan perasaan Anda saat itu. Misalnya, jika Anda merasa grogi ketika itu, jangan tutup-tutupi (karena mereka pasti bisa melihat).  Dengan rendah hati, akuilah ketakutan itu dengan jujur.

Prinsip #7–Apa yang Terjadi Selama Anda Berbicara,  Bisa Anda Manfaatkan untuk Keuntungan Anda!

Salah satu alasan orang takut berbicara di depan umum adalah karena dia tidak mau dipermalukan di hadapan orang banyak. Bagaimana nanti jika aku gemetaran dan suaraku tercekat?  Bagaimana jika aku lupa sama sekali apa yang harus kusampaikan? Bagaimana jika hadirin menolakku dan melempari aku dengan benda-benda? Bagaimana nanti jika mereka keluar ruangan semua? Bagaimana nanti jika mereka mengajukan pertanyaan sukar dan komentar tajam?

Jika semua ini memang terjadi, memang akan membuat pembicara itu mendapat malu.  Untungnya, hal ini tidak sering terjadi. Sekalipun ini terjadi, ada jurus jitu yang dapat dipakai untuk menangkalnya. Ingin tahu?  Jika orang mulai beranjak pergi, Anda bisa bertanya: “Apakah dari yang saya sampaikan ada yang tidak Anda setujui?  Apakah gaya dan cara saya menyampaikan kurang tepat?  Apakah yang saya sampaikan tidak sesuai dengan harapan Anda?  Ataukah ada yang salah masuk ruangan?” Dengan menanyakan hal ini secara jujur dan rendah hati, maka hadirin yang masih duduk akan setia hingga Anda selesai berbicara.

Pertanyaan ini juga memberikan kesempatan pada Anda untuk memperbaiki kesalahan yang Anda lakukan saat itu. Prinsip yang sama juga dapat diterapkan menghadapi penentang dan pengejek Anda. Anda selalu punya kesempatan untuk memakai situasi apapun yang terjadi untuk keuntungan Anda.

Prinsip #8–Anda Tidak Bisa Mengatur Perilaku Khalayak Anda

 

Ada beberapa hal yang bisa Anda atur, yaitu: pikiran Anda, persiapan Anda, pengaturan alat peraga Anda,  penataan ruang pertemuan–tetapi satu hal yang tidak bisa diatur, yaitu audiens atau khalayak Anda. Mereka akan bertindak sesuai kehendak mereka sendiri.

Jika mereka terlihat lelah atau gelisah, jangan coba-coba untuk mengaturnya. Jika mereka membaca koran, atau tertidur biarkanlah itu sepanjang tidak mengganggu yang lain. Jika mereka tidak menyimak, jangan menghukum mereka

 

Jika Anda menganggap bahwa Anda harus mengatur perilaku orang lain, maka Anda akan stress sendiri.  Anda hanya bisa mengatur diri Anda sendiri dan sarana pendukung.

Prinsip #9–Hadirin Sesungguhnya Menginginkan Anda Berhasil

Para hadirin menghendaki Anda sukses menyampaikan materi.  Sesungguhnya, sebagian besar dari mereka sangat takut berbicara di depan orang banyak.  Mereka tahu risiko kegagalan dan dipermalukan yang Anda ambil ketika Anda maju di depan mereka. Mereka mengagumi keberanian Anda mengambil risiko itu. Mereka akan di pihak Anda, apa pun yang terjadi.

Ini artinya, sebagian besar khalayak itu bisa memahami jika Anda membuat kesalahan. Tingkat toleransi mereka terhadap kesalahan Anda cukup tinggi.  Anda perlu meyakini prinsip ini, terutama ketika merasa bahwa penampinan Anda sangat buruk.

 

Categories: Kajian Kebahasaan Tags:

Mengenal Prosa

Prosa

Posted by Vanda Hardinata, S.Pd, M.Pd

 

Kata prosa berasal dari bahasa Latin “Prosa” yang artinya “terus terang”. Prosa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karena variasi ritme (rhythm) yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebih sesuai dengan arti leksikalnya. Prosa ialah karya sastra dalam bentuk bahasa yang terurai tidak terikat oleh rima, ritma, jumlah baris dan sebagainya. Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untuk mendeskripsikan suatu fakta atau ide.  Karenanya, prosa dapat digunakan untuk surat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis media lainnya.

 

Adapun unsur-unsur instrik dalam prosa:

  1. Tema adalah tentang apa prosa tersebut berbicara
  2. Amanat atau pesan yaitu nasehat yang hendak disampaikan kepada pembaca.
  3. Plot atau alur adalah rangkaian peristiwa yang membentuk cerita
  4. Perwatakan atau karakteristik atau penokohan adalah cara-cara pengarang menggambarkan watak pelaku.
  5. Sudut pandang adalah cara pengarang menempatkan diri, yaitu:
  6. Latar atau setting adalah gambaran atau keterangan mengenai tempat, waktu, situasi atau suasana berlangsungnya peristiwa.
  7. Gaya bahasa adalah corak pemakaian bahasa
  • Sudut pandang orang pertama adalah pengarang sebagai pelaku
  • Sudut pandang orang ketiga adalah pengarang tidak menjadi pelaku

Karya sastra prosa dapat diklasifikasikan berdasarkan pembabakannya menjadi prosa lama dan prosa baru. Prosa lama merupakan karya sastra yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaan barat. Karya sastra prosa lama yang mula-mula timbul disampaikan secara lisan, disebabkan karena belum dikenalnya bentuk tulisan. Setelah agama dan kebudayaan Islam masuk ke Indonesia, masyarakat menjadi akrab dengan tulisan, dan bentuk tulisan pun mulai banyak dikenal. Sejak itulah sastra tulisan mulai dikenal dan sejak itu pulalah babak-babak sastra pertama dalam rentetan sejarah sastra Indonesia mulai ada.

Prosa lama adalah prosa yang hidup dan berkembang dalam masyarakat lama Indonesia yang belum terpengaruhi budaya barat.

Adapun bentuk-bentuk sastra prosa lama adalah:

1. Hikayat, berasal dari India dan Arab, berisikan cerita kehidupan para dewi, peri, pangeran, putri kerajaan, serta raja-raja yang memiliki kekuatan gaib. Kesaktian dan kekuatan luar biasa yang dimiliki seseorang, yang diceritakan dalam hikayat kadang tidak masuk akal. Namun dalam hikayat banyak mengambil tokoh-tokoh dalam sejarah. Contoh: Hikayat Hang Tuah, Kabayan, Si Pitung, Hikayat Si Miskin, Hikayat Indra Bangsawan, Hikayat Sang Boma, Hikayat Panji Semirang, Hikayat Raja Budiman.

2. Sejarah (tambo), adalah salah satu bentuk prosa lama yang isi ceritanya diambil dari suatu peristiwa sejarah. Cerita yang diungkapkan dalam sejarah bisa dibuktikan dengan fakta. Selain berisikan peristiwa sejarah, juga berisikan silsilah raja-raja. Sejarah yang berisikan silsilah raja ini ditulis oleh para sastrawan masyarakat lama. Contoh: Sejarah Melayu karya datuk Bendahara Paduka Raja alias Tun Sri Lanang yang ditulis tahun 1612.

3. Kisah, adalah cerita tentang cerita perjalanan atau pelayaran seseorang dari suatu tempat ke tempat lain. Contoh: Kisah Perjalanan Abdullah ke Negeri Kelantan, Kisah Abdullah ke Jedah.

4. Dongeng, adalah suatu cerita yang bersifat khayal. Dongeng sendiri banyak ragamnya, yaitu sebagai berikut:

a. Fabel, adalah cerita lama yang menokohkan binatang sebagai lambang pengajaran moral (biasa pula disebut sebagai cerita binatang). Beberapa contoh fabel, adalah: Kancil dengan Buaya, Kancil dengan Harimau, Hikayat Pelanduk Jenaka, Kancil dengan Lembu, Burung Gagak dan Serigala, Burung Bangau dengan Ketam, Siput dan Burung Centawi, dll.

b. Mite (Mitos), adalah cerita-cerita yang berhubungan dengan kepercayaan terhadap sesuatu benda atau hal yang dipercayai mempuyai kekuatan gaib. Contoh-contoh sastra lama yang termasuk jenis mitos, adalah: Nyai Roro Kidul, Ki Ageng Selo, Dongeng tentang Gerhana, Dongeng tentang Terjadinya Padi, Harimau Jadi-Jadian, Puntianak, Kelambai, dll.

c. Legenda, adalah cerita lama yang mengisahkan tentang riwayat terjadinya suatu tempat atau wilayah. Contoh: Legenda Banyuwangi, Tangkuban Perahu, dll.

d. Sage, adalah cerita lama yang berhubungan dengan sejarah, yang menceritakan keberanian, kepahlawanan, kesaktian dan keajaiban seseorang. Beberapa contoh sage, adalah: Calon Arang, Ciung Wanara, Airlangga, Panji, Smaradahana, dll.

e. Parabel, adalah cerita rekaan yang menggambarkan sikap moral atau keagamaan dengan menggunakan ibarat atau perbandingan. Contoh: Kisah Para Nabi, Hikayat Bayan Budiman, Mahabarata, Bhagawagita, dll.

f. Dongeng jenaka, adalah cerita tentang tingkah laku orang bodoh, malas, atau cerdik dan masing-masing dilukiskan secara humor. Contoh: Pak Pandir, Lebai Malang, Pak Belalang, Abu Nawas, dll.

5. Cerita berbingkai, adalah cerita yang di dalamnya terdapat cerita lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya. Contoh: Seribu Satu Malam

 

Prosa baru adalah karangan prosa yang timbul setelah mendapat pengaruh sastra atau budaya Barat.

 

Bentuk-bentuk prosa baru adalah sebagai berikut:

1. Roman, adalah bentuk prosa baru yang mengisahkan kehidupan pelaku utamanya dengan segala suka dukanya. Dalam roman, pelaku utamanya sering diceritakan mulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia. Roman mengungkap adat atau aspek kehidupan suatu masyarakat secara mendetail dan menyeluruh, alur bercabang-cabang, banyak digresi (pelanturan).

 

2. Novel, berasal dari Italia yaitu novella ‘berita’. Novel adalah bentuk prosa baru yang melukiskan sebagian kehidupan pelaku utamanya yang terpenting, paling menarik, dan yang mengandung konflik. Biasanya novel lebih pendek daripada roman dan lebih panjang dari cerpen. Contoh: Ave Maria oleh Idrus, Keluarga Gerilya oleh Pramoedya Ananta Toer.

 

3.  Cerpen, adalah bentuk prosa baru yang menceritakam sebagian kecil dari kehidupan pelakunya yang terpenting dan paling menarik. Di dalam cerpen boleh ada konflik atau pertikaian, akan telapi hat itu tidak menyebabkan perubahan nasib pelakunya.

 

4. Riwayat (biografi), adalah suatu karangan prosa yang berisi pengalaman-pengalaman hidup pengarang sendiri (otobiografi) atau bisa juga pengalaman hidup orang lain sejak kecil hingga dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia.

 

5. Kritik, adalah karya yang menguraikan pertimbangan baik-buruk suatu hasil karya dengan memberi alasan-alasan tentang isi dan bentuk dengan kriteria tertentu yang sifatnya objektif dan menghakimi.

 

6.  Resensi, adalah pembicaraan / pertimbangan / ulasan suatu karya (buku, film, drama, dll.). Isinya bersifat memaparkan agar pembaca mengetahui karya tersebut dari ebrbagai aspek seperti tema, alur, perwatakan, dialog, dll, sering juga disertai dengan penilaian dan saran tentang perlu tidaknya karya tersebut dibaca atau dinikmati.

 

7. Esai, adalah ulasan / kupasan suatu masalah secara sepintas lalu berdasarkan pandangan pribadi penulisnya. Isinya bisa berupa hikmah hidup, tanggapan, renungan, ataupun komentar tentang budaya, seni, fenomena sosial, politik, pementasan drama, film, dll. menurut selera pribadi penulis sehingga bersifat sangat subjektif  atau sangat pribadi.

 

Perbedaan antara prosa lama dan baru adalah sebagai berikut :

 

Prosa lama

  1. Statis, lamban perubahannya
  2. Istana Sentris, bersifat kerajaan
  3. Bersifat fantastis, bentuknya hikayat, dongeng
  4. Di pengaruhi sastra Hindu dan Arab
  5. Tidak ada pengarang atau anonim

 

Prosa baru

  1. Dinamis, perubahannya cepat
  2. Rakyat Sentris, mengambil bahan dari rakyat sekitar
  3. Realistis, bentuknya roman, novel, cerpen, drama, kisah, dsb.
  4. Di pengaruhi sastra Barat
  5. Nama pencipta selalu dicantumkan

 

Categories: Kajian Sastra Tags: